Total Tayangan Halaman

Selasa, 06 April 2010

PANZER MENGAWAL KERETA API KE BANDUNG
   Gambar 1: Panzer buatan Kavalri Divisi Siliwangi yang didorong lokomotif.
(pena S. Angudi)

       Panzer sebagai bagian dari peralatan kavaleri tidak hanya dapat digunakan dalam pertempuran melawan sesama panzer dan tank musuh seperti terjadi di Afrika pada waktu Perang Dunia ke-2. Di Jawa Barat panzer yang didorong kereta api digunakan untuk mengawal kereta api yang sering mendapat gangguan dan penggulingan oleh gerombolan DI/ TII sebelum tahun 1962.
Melalui darat bila anda akan ke Bandung dari Jakarta atau dari kota lain saat ini anda dapat berangkat kapanpun tanpa harus kawatir akan terdampar di kota kecil di luar Bandung. Akan tetapi antara tahun 1948 sampai tahun tahun 1962 anda harus berangkat pagi dan harus yakin bahwa sebelum jam 4 sore anda sudah sampai di

Bandung. Dari Bandung bila ada kendaraan yang berangkat keluar kota pada waktu agak sore, di perbasan kota, tentara akan melarang anda untuk meneruskan perjalanan karena tidak aman.





Gambar 2: Lokomotif D-52 buatan Krupp
(foto S. Angudi




Petani-petani yang kaya dan mempunyai lahan agak luas yang tadinya hidup tenteram di desanya terpaksa mengungsi ke Bandung beserta keluarga mereka dan membuat rumah di Bandung. Mereka hanya akan ke desanya kalau musim tanam dan musim panen untuk kemudian menjelang sore kembali lagi ke Bandung. Akan tetapi petani penggarap atau yang tidak begitu kaya terpaksa harus tetap tinggal di desanya dengan segala resikonya. Petani-petani miskin dan penggarap lalu mendirikan benteng bambu yang tebalnya 1 meter setinggi 3-4 meter seluas cukup untuk 10-15 keluarga beserta ternak mereka untuk tidur di dalamnya. Mereka takut tidur di rumahnya masing-masing. Benteng tersebut hanya mempunyai satu pintu keluar dan dijaga anggota Organisasi Keamanan Desa (OKD) atau di tempat lain disebut Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR)yang beberapa diantaranya dipersenjatai oleh TNI dengan senjata-api yang agak kuno, bukan senjata standar TNI. Anggota-anggota OPR dipimpin oleh Babinsa (Bintara Pembina Desa).
Di sepanjang jalan kereta api dari Yogya ke Bandung di antara Maos di Cilacap sampai ke Rancaekek sepanjang 250 km, benteng-benteng bambu itu tampak di kiri kanan jalur KA. Bahkan di terminal bus Malangbong, dahulu berdiri satu benteng bambu yang besar.


Kereta Api perlu dikawal karena beberapa kali terjadi penggulingan terhadap KA oleh DI/TII di Trowek,Warungbandrek,Lebakjero, Padalarang dan beberapa tempat lain.
Untuk melindungi KA, Kavaleri Kodam VI Siliwangi (sekarang Kodam III) mengawal KA dengan panzer tak bermesin yang didorong oleh lokomotif uap D-52 buatan Krupp Jerman Barat. Panzer tersebut berisi anggota TNI yang siap dengan senjata mereka.









Gambar 3: Panzer dengan mesin Ford buatan Peralatan Angkatan Darat.
(foto S. Angudi)
 






Sedangkan Peralatan Angkatan Darat (PAL, sekarang PINDAD) membuat panzer dengan mesin diesel Ford VBA65HI yang dipasang pada panzer las-lasan buatan PAL yang dapat berlari 80 km/jam tanpa harus didorong oleh lokomotif uap sehingga dapat berpatroli sendirian. Ilustrasi menggambarkan panzer itu melewati benteng bambu buatan penduduk di daerah yang tidak aman 
                                                                                    


 Gambar 2:Panzer dengan mesin Ford buatan Peralatan Angkatan Darat. 
(pena S. Angudi)


 Bila ada pertempuran antara TNI dan DI/TII di depan, maka KA harus berhenti di halte terdekat. Karena udara di dalam gerbong makin panas para penumpang keluar dan menanyakan apa yang terjadi. Para pedagang teh panas dari cerek dan gelas-gelas menawarkan dagangannya. Penumpang yang lapar membeli nasi tahu panas yang dibungkus di daun-daun pisang. Di warung dalam gedung halte tersedia limun dengan botol tutup porselen dengan bantalan karet ban dalam mobil agar dapat ditutup rapat dengan tungkai kawat. Itulah pengalaman saya beberapa kali menaiki KA berkawal tersebut.
Pada bulan Juni 1962 Sersan Ara Suhara dan Letnan Dua Suhanda dari Kompi C Batalion 328 Kujang II Siliwangi menyergap pimpinan DI/ TII Sekarmaji Maridjan Kartosoewirjo di Gunung Geber Majalaya di selatan Kota Bandung. Semenjak itu KA ke Bandung berangsur aman dan tidak perlu lagi dikawal oleh panzer.
Pemberontakan bersenjata yang lamanya 13 tahun di Tatar Sunda itu telah menghalangi pertumbuhan ekonomi masyarakat, ribuan ibu-ibu menjadi janda dan ribuan anak-anak yang tak berdosa menjadi yatim/ yatim-piatu sehingga mereka hidup lebih sengsara. Menurut dakwaan Jaksa Penuntut dalam Pengadilan Militer kerugian masyarakat dan negara antara periode 1953 sampai 1960 tercatat 22.895 orang telah meninggal dan 115.822 rumah telah dibakar. Tidak dapat dihitung penderitaan dan kesengsaraan para anak yatim piatu yang menjadi terlantar karena peristiwa ini. (
garudamiliter.blogspot.co.id/2012/03/pengejaran-kartosuwiryo).
Semoga tidak ada lagi perselisihan bersenjata yang ujung-ujungnya selalu menyengsarakan rakyat terutama ibu-ibu dan anak-anak yang tidak berdosa.
Lokomotif D-52 sekarang disimpan di Museum Transportasi TMII di Jakarta, sedangkan panzer bermesin disimpan di Museum Mandala Wangsit Siliwangi, di Jl. Lembong Bandung. Panzer tak bermesin tidak diketahui keberadaannya.*** 


Sardjono Angudi
jongki.angudi@gmail.com
Bahan: Pengalaman dan survey pribadi

4 komentar:

  1. Sekalipun hanya sepenggal cerita,nama itu akan selalu kami kenang..tidak perlu oleh semua orang tapi kami,anak-cucunya..semoga ayahanda ara suhara ditempatkan di tempat paling mulia,tempat Rasullullah dan orang2 shaleh di sisiNya,amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami penulis blog ini bangga dan berterimakasih kepada Bapak Ara Suhara yang telah menunaikan tugasnya mengamankan Jawa Barat dan Tanah Air.

      Hapus
  2. Panzer tak bermesin kalo tidak salah,,saya melihatnya berada di museum satria mandala,jakarta

    BalasHapus
  3. Mohon whatsapp bisnis diaktifkan kembali

    BalasHapus