KEINDAHAN PENINGGALAN DI JATINANGOR
Pada km 21 jalan raya Bandung-Sumedang ke arah Sumedang, kira-kira 300 m sesudah melewati Kampus Institut Managemen Koperasi (IKOPIN) masuk ke kiri, 200 m dari jalan raya tersebut tampaklah Gedung Rektorat Universitas Winaya Mukti (UNWIM) yang dibangun pada tahun 2000-an, tetapi dengan bentuk seperti gedung generasi Awal Abad XX (Gambar 1).
Bangunan ini disebut bergaya Indo-Eropeesche Architectuur Stijl.
Gambar 1: Universitas Winaya Mukti kemudian Institut Teknologi Bandung
Karena curah hujan yang tinggi dan sinar matahari yang terik, penggunaan atap yang luas sangat diperlukan sebagai fungsi pelindung selain sebagai fungsi hiasan. Gedung-gedung UNPAD, UNWIM, IKOPIN dan Bandung Giri Gahana semuanya bergaya yang sama seperti tersebut di atas dengan berbagai variasi.
Berjalan ke utara lagi dari Rektorat UNWIM, terdapat sebuah menara yang dibangun dengan gaya Romatic dengan hiasan-hiasan di keempat sisinya. Penduduk Jatinangor menjelaskan bahwa bangunan itu adalah menara sirene dan jam yang sampai bangkrutnya Kebun Karet Jatinangor, memberitanda waktu bagi penyadap untuk mulai bekerja dan kemudian mengambil mangkok lateks bila sudah penuh. Cultuur Ondernemingen van Maatschapaij Baud didirikan pada tahun 1841.
Gambar 3: Makam Baron Baud dan Mimosa di bawah pohon rindang.
Menara itu tampak terpelihara dan tidak kelihatan bahwa umurnya sudah 170 tahun. Di belakang menara sejak tahun 2010 ini telah berdiri Gedung Palang Merah Indonesia.
Rumah Baron Baud, pemilik perkebunan Jatinangor dan empalesen-nya dahulu terletak di sebelah utara menara dan oleh penduduk disebut Loji. Loji yang dibangun pada tahun 1841 ini telah di bulldozer untuk tempat didirikannya Sport Centre KONI yang terbengkelai. Tembok Loji dibuat tidak menggunakan semen, tetapi adukan pasir, kapur, tepung bata, dan tanah kuning. Batanya padat, kurang berpori, dan mampat. Beratnya 2,1 kg dan ukurannya lebih besar sedikit dari pada bata sekarang yang beratnya 1,1 kg. Tampaknya bata yang digunakan untuk membangun Loji dibuat dari tanah yang tidak mengandung humus dan tanahnya mungkin ditumbuk sebelum dicetak menjadi bata.
Dari cerita sumber, bata tersebut dicuci dan disikat sebelum disusun menjadi tembok pada waktu membangun rumah Baron Baud yang denahnya berbentuk huruf L berkamar 13. Sepuluh kamar membujur ke utara lalu ujungnya tiga kamar membujur ke timur. Di halaman Loji ditanam bermacam-macam pohon buah-buahan tropis langka.
Seratus meter disebelah barat menara terdapat dua nisan yang sudah tidak bernama di bawah pohon ki hujan, mahoni dan cemara yang telah berumur tua. Itulah makam Baron Baud dan putrinya Mimosa, pemilik dan pendiri onderneming.
Mendengar namanya Baron Baud bisa jadi orang Jerman yang menginvestasikan modalnya bersama perusahaan Belanda. Menurut cerita Baron Baud menikah dengan nyai-nyai dari Bogor. Nyai-nyai adalah sebutan bagi wanita pribumi yang jadi isteri pria kulit putih.
Dari lokasi Bandung Giri Gahana kearah selatan dapat dilihat Gunung Geulis disebelah kiri, dataran Rancaekek yang merupakan daerah industri tekstil dan merupakan dasar Danau Bandung yang terbentuk pada 125.000 tahun sebelum Nabi Isa Al-Maseh a.s. waktu Gunung Tangkuban Parahu Purba meletus. Dasar itupun juga menjadi daerah persawahan. Danau mulai mengering pada 5000 tahun s.M.
Di sebelah timus Kampus UNPAD terdapat jembatan kereta api Cikuda yang dibangun pada 1918 oleh perusahaan kereta api kerajaan Bela
nda SS (Staat Spoorwegen).Dalam buku "Wajah Bandung Tempo Doeloe" tulisan Haryoto Kunto, disebutkan bahwa jembatan itu telah musnah. Jembatan ini bukannya jembatan yang lurus akan tetapi membelok dengan indahnya dan digunakan oleh rakyat untuk lewat membawa barang-barang keperluan sehari-hari dan jalan mahasiswa yang kost disekitar kampung menuju Kampus UNPAD.
Di ujung barat dan timur jembatan telah terjadi longsoran-longsoran karena erosi yang membahayakan berdirinya jembatan tersebut. Semoga ada perhatian dan modal dari yang berwenang untuk menyelamatkan jembatan, menara sirene dan Makam Baron Baud sebagai peninggalan sejarah, aset parawisata dan pendidikan.Di Perancis serakan batu bekas tentara Kerajaan Romawi memasak dipelihara dan dijadikan aset wisata. Jangan sampai suatu hari Indonesia akan menyesal karena obyek-obyek wisata yang dapat menghasilkan uang dan berguna bagi pendidikan ini hancur. *** Bahan: Wajah Bandung Tempo Doeloe /Haryoto Kunto; Survey pribadi.
Salam untuk pembaca semua.
Pada km 21 jalan raya Bandung-Sumedang ke arah Sumedang, kira-kira 300 m sesudah melewati Kampus Institut Managemen Koperasi (IKOPIN) masuk ke kiri, 200 m dari jalan raya tersebut tampaklah Gedung Rektorat Universitas Winaya Mukti (UNWIM) yang dibangun pada tahun 2000-an, tetapi dengan bentuk seperti gedung generasi Awal Abad XX (Gambar 1).
Bangunan ini disebut bergaya Indo-Eropeesche Architectuur Stijl.
Gambar 1: Universitas Winaya Mukti kemudian Institut Teknologi Bandung
Karena curah hujan yang tinggi dan sinar matahari yang terik, penggunaan atap yang luas sangat diperlukan sebagai fungsi pelindung selain sebagai fungsi hiasan. Gedung-gedung UNPAD, UNWIM, IKOPIN dan Bandung Giri Gahana semuanya bergaya yang sama seperti tersebut di atas dengan berbagai variasi.
Berjalan ke utara lagi dari Rektorat UNWIM, terdapat sebuah menara yang dibangun dengan gaya Romatic dengan hiasan-hiasan di keempat sisinya. Penduduk Jatinangor menjelaskan bahwa bangunan itu adalah menara sirene dan jam yang sampai bangkrutnya Kebun Karet Jatinangor, memberitanda waktu bagi penyadap untuk mulai bekerja dan kemudian mengambil mangkok lateks bila sudah penuh. Cultuur Ondernemingen van Maatschapaij Baud didirikan pada tahun 1841.
Gambar 2: Menara Sirene Perkebunan dibangun 1841
Gambar 3: Makam Baron Baud dan Mimosa di bawah pohon rindang.
Gambar 4: Jembatan Kereta Api Cikuda. Dibangun 1918.
Menara itu tampak terpelihara dan tidak kelihatan bahwa umurnya sudah 170 tahun. Di belakang menara sejak tahun 2010 ini telah berdiri Gedung Palang Merah Indonesia.
Rumah Baron Baud, pemilik perkebunan Jatinangor dan empalesen-nya dahulu terletak di sebelah utara menara dan oleh penduduk disebut Loji. Loji yang dibangun pada tahun 1841 ini telah di bulldozer untuk tempat didirikannya Sport Centre KONI yang terbengkelai. Tembok Loji dibuat tidak menggunakan semen, tetapi adukan pasir, kapur, tepung bata, dan tanah kuning. Batanya padat, kurang berpori, dan mampat. Beratnya 2,1 kg dan ukurannya lebih besar sedikit dari pada bata sekarang yang beratnya 1,1 kg. Tampaknya bata yang digunakan untuk membangun Loji dibuat dari tanah yang tidak mengandung humus dan tanahnya mungkin ditumbuk sebelum dicetak menjadi bata.
Dari cerita sumber, bata tersebut dicuci dan disikat sebelum disusun menjadi tembok pada waktu membangun rumah Baron Baud yang denahnya berbentuk huruf L berkamar 13. Sepuluh kamar membujur ke utara lalu ujungnya tiga kamar membujur ke timur. Di halaman Loji ditanam bermacam-macam pohon buah-buahan tropis langka.
Seratus meter disebelah barat menara terdapat dua nisan yang sudah tidak bernama di bawah pohon ki hujan, mahoni dan cemara yang telah berumur tua. Itulah makam Baron Baud dan putrinya Mimosa, pemilik dan pendiri onderneming.
Mendengar namanya Baron Baud bisa jadi orang Jerman yang menginvestasikan modalnya bersama perusahaan Belanda. Menurut cerita Baron Baud menikah dengan nyai-nyai dari Bogor. Nyai-nyai adalah sebutan bagi wanita pribumi yang jadi isteri pria kulit putih.
Dari lokasi Bandung Giri Gahana kearah selatan dapat dilihat Gunung Geulis disebelah kiri, dataran Rancaekek yang merupakan daerah industri tekstil dan merupakan dasar Danau Bandung yang terbentuk pada 125.000 tahun sebelum Nabi Isa Al-Maseh a.s. waktu Gunung Tangkuban Parahu Purba meletus. Dasar itupun juga menjadi daerah persawahan. Danau mulai mengering pada 5000 tahun s.M.
Di sebelah timus Kampus UNPAD terdapat jembatan kereta api Cikuda yang dibangun pada 1918 oleh perusahaan kereta api kerajaan Bela
nda SS (Staat Spoorwegen).Dalam buku "Wajah Bandung Tempo Doeloe" tulisan Haryoto Kunto, disebutkan bahwa jembatan itu telah musnah. Jembatan ini bukannya jembatan yang lurus akan tetapi membelok dengan indahnya dan digunakan oleh rakyat untuk lewat membawa barang-barang keperluan sehari-hari dan jalan mahasiswa yang kost disekitar kampung menuju Kampus UNPAD.
Di ujung barat dan timur jembatan telah terjadi longsoran-longsoran karena erosi yang membahayakan berdirinya jembatan tersebut. Semoga ada perhatian dan modal dari yang berwenang untuk menyelamatkan jembatan, menara sirene dan Makam Baron Baud sebagai peninggalan sejarah, aset parawisata dan pendidikan.Di Perancis serakan batu bekas tentara Kerajaan Romawi memasak dipelihara dan dijadikan aset wisata. Jangan sampai suatu hari Indonesia akan menyesal karena obyek-obyek wisata yang dapat menghasilkan uang dan berguna bagi pendidikan ini hancur. *** Bahan: Wajah Bandung Tempo Doeloe /Haryoto Kunto; Survey pribadi.
Salam untuk pembaca semua.
Ketik Sardjono Angudi pada Google untuk membaca cerita lainnya dari jongki.angudi@gmail.com
15/06/10
Tulisan dan ilustrasinya bagus. Sayang tidak ada ilustrasi rumah baron baud yang sekarang udh ga ada. Salam... jatinangortoday.blogspot.com
BalasHapus